MENEMUKAN KEMBALI KASIH YANG SEMULA: PESAN PROFETIK KRISTUS KEPADA GEREJA MASA KINI DALAM TERANG WAHYU 2:1–7
DOI:
https://doi.org/10.48125/jtb.v10i2.347Keywords:
Kitab Wahyu, Kasih Mula-Mula, Pesan Profetik Kristus, Gereja Masa KiniAbstract
Gereja pada era kontemporer menghadapi tantangan serius berupa kemerosotan spiritual di tengah meningkatnya aktivitas pelayanan, penguatan organisasi gerejawi, dan kemajuan liturgi yang tampak berhasil secara institusional. Kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara ortodoksi, pelayanan, dan relasi kasih kepada Kristus sebagai pusat spiritualitas gereja. Teguran Kristus kepada jemaat Efesus dalam Wahyu 2:1–7 menjadi refleksi teologis penting karena gereja dipuji atas ketekunan dan kemurnian ajarannya, tetapi dikritik karena meninggalkan kasih yang semula. Fenomena gereja masa kini memperlihatkan meningkatnya pelayanan yang bersifat formalistis, pragmatis, dan performatif sehingga menimbulkan kekeringan rohani, spiritual burnout, serta menurunnya keintiman dengan Kristus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna teologis kasih mula-mula dalam Wahyu 2:1–7 serta relevansi pesan profetik Kristus bagi gereja kontemporer. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan hermeneutika dan eksegesis terhadap teks Wahyu 2:1–7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasih mula-mula merupakan inti spiritualitas gereja yang menjadi dasar seluruh pelayanan Kristen. Kehilangan kasih mula-mula menyebabkan pelayanan berubah menjadi aktivitas religius tanpa kehidupan rohani yang autentik. Oleh sebab itu, gereja masa kini dipanggil untuk kembali membangun relasi intim dengan Kristus agar pelayanan tetap berakar pada kasih, kesetiaan, dan spiritualitas yang hidup.